Opini Membangun Startup Tak Selalu Berbasis Aplikasi Digital

Membangun Startup Tak Selalu Berbasis Aplikasi Digital

sisiusaha (18/03)

Masalah ekonomi generasi millenial menjadi narasi yang begitu penting pada debat Cawapres ke tiga tanggal 17 Maret 2019, KH. Ma'ruf Amin berulang mengakatan keinginan pasangan Capres Jokowi-Ma'ruf untuk membangun 3000 lebih startup dimasa mendatang apabila terpilih. Sementara masalah ekonomi generasi millenial tak sebatas hanya dengan membangun ribuan startup berbasis digital, karena membangun startup tak selalu berbasis aplikasi digital.

Persoalan ekonomi khususnya pada generasi millenial bukan hanya startup yang mengusung teknologi digital dan big data, namun lebih luas dari pada itu. Teknologi digital diciptakan untuk mempermudah manusia dalam beraktifitas, namun tidak semua aktifitas manusia dapat diselesaikan secara digital. Pada hakekatnya manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan kebutuhan sosial dalam kehidupan hakikinya.

Pergeseran sifat sosial dengan menggunakan teknologi digital dapat mengkerdilkan sifat sosial yang sesungguhnya pada manusia. Kehidupan sosial ekonomi pun demikian, semua transaksi ekonomi mulai beralih menuju teknologi ciptaan yang humanityless, apalagi konsep industri 4.0 yang lebih memanfaatkan Artificial Intelligence (kecerdasan buatan) dan big data. Maka dapat dipastikan human resources akan semakin ditinggalkan.

Pemahaman startup adalah sebuah usaha rintisan, namun banyak pihak yang mengasosiasikan dengan teknologi digital, sementara usaha rintisan tidak selalu padat teknologi digital. Startup atau usaha rintisan merupakan sebuah usaha yang kreatif, melalui ide yang original tanpa harus bermodal besar dan dapat diaplikasikan secara nyata pada pasar. Pemanfaatan teknologi digital itu hal berikutnya, yaitu dalam hal promosi, operasional dan sebagainya, jadi bukan inti.

Artinya apabila seorang anak generasi millenial membangun usaha warung kopi, atau bahasa kekiniannya coffee shop yang unik dengan memiliki perbedaan serta menjadikan viral, itu juga termasuk usaha dalam kategori startup. Atau keripik pedas mak icih yang sempat viral dan menjadi besar, yang diawali dengan ide original yang kreatif, itu juga bentuk startup. Memang para pengusaha muda ini memanfaatkan teknologi digital sebagai cara untuk berpromosi, tapi mereka bukan membangun aplikasi digital.

Berikutnya adalah tidak semua generasi millenial memiliki kemampuan coding yang menjadi prasyarat dalam membangun aplikasi digital. Bakat dan kemampuan anak muda sangat beragam, mengapa tidak di optimalkan bakat dan kemampuan sesuai dengan bidangnya masing-masing, dan itu juga tidak bisa dipaksakan untuk selalu berteknologi digital. Namun teknologi digital sebagai tambahan untuk networking, analisa perilaku konsumen dengan big data serta sarana promosi agar bisa lebih berkembang.

Dalam menyambut industri 4.0, dimana nantinya tenaga manusia akan tergantikan oleh Artificial Intelligence (AI) yang dijalankan menggunakan robot, jangan lantas latah hanya ikut-ikutan menciptakan robot, namun perdalam ilmu dan ketrampilan bidang industrinya terlebih dahulu. Bagaimana menciptakan generasi millenial dalam industri pertanian, perkebunan atau perikanan yang unggul untuk anak muda di daerah pedesaan akan jauh lebih bermanfaat dari pada sekedar memaksa untuk membangun aplikasi digital. (MAB)

Rekomendasi

Baca Juga