News Apa yang Dibutuhkan Generasi Milenial di Tasikmalaya?

Apa yang Dibutuhkan Generasi Milenial di Tasikmalaya?

Indonesia diprediksi akan menjadi negara dengan pendapatan terbesar keempat di dunia dalam beberapa tahun kedepan. Jika melihat banyaknya jumlah penduduk usia produktif dan menjamurnya usaha rintisan, prediksi tersebut nampaknya akan terwujud.

Generasi milenial lah yang akhirnya dituntut untuk merealisasikan hal di atas melalui sektor industri kreatif. Namun, tuntutan itu harus bersifat adil. Artinya, jika generasi milenial dituntut untuk memajukan Indonesia, maka pemerintah juga harus aktif mengakomodir kebutuhan generasi milenial untuk bekerja, berkreasi, dan berkumpul membahas masalah-masalah yang berkaitan dengan industri kreatif.

Dari sekian banyak daerah potensial, Kota Tasikmalaya menjadi salah satu daerah dengan konsentrasi generasi milenial yang cukup banyak. Oleh karena itu, anak muda di Tasikmalaya, baik itu mahasiswa, pengusaha, dan karyawan harus diberikan ruang untuk bisa turut serta dalam pembangunan perekonomian Indonesia beberapa tahun kedepan.

Lalu sebenarnya apa yang dibutuhkan generasi milenial Tasikmalaya untuk membantu mereka menggali potensi dan bekerja? Berikut adalah pernyataan yang disampaikan beberapa generasi milenial di Kota Tasikmalaya.

Ria, perempuan kelahiran asli Tasikmalaya ini menyampaikan, generasi milenial membutuhkan perpustakaan modern atau sarana untuk membaca. “Kami butuh itu karena minat baca generasi milenial di Tasik terbilang rendah”. Padahal, menurut Ria, membaca merupakan gerbang awal generasi milenial untuk mendapat wawasan sebagai modal membangun Indonesia.

Sementara itu, Faldy, generasi milenial asal Tasikmalaya ini lebih fokus kepada fasilitas penunjang generasi milenial. Dengan asas “work hard, play hard”, Faldy berharap, pemerintah Kota Tasikmalaya membuat tempat-tempat berkumpulnya generasi milenial di Tasikmalaya.

“Cara bekerja kaum milenial itu berbeda dengan cara generasi sebelumnya. Biasanya ketika generasi milenial berkumpul di suatu tempat, itu bukan sekadar nongkrong, tapi juga terjadi pertukaran ide-ide kreatif yang akan dikonversi menjadi sebuah usaha yang nyata.

“Selebihnya silahkan pihak pemerintah membuat diskusi-diskusi formal tiap minggu, sehingga menciptakan ekosistem kreatif dan santai tapi serius. Karena kami ini kalau bekerja terkesan sedang bermain karena suasananya yang begitu santai. Tapi sebenarnya kami sangat serius ketika sudah berbicara masalah bisnis.” Tutur Faldy.

Senada dengan Faldy, perempuan asal Tasikmalaya lainnya yang biasa dipanggil Ucrit, menjelaskan pentingnya fasilitas untuk generasi milenial di Tasikmalaya. Perempuan berusia 21 tahun yang sedang mengenyam pendidikan di Bandung ini, lebih fokus ke fasilitas penunjang fisik untuk mengimbangi kebiasaan brainstorming generasi milenial.

“Harusnya memang ada fasilitas-fasilitas itu. Jadi habis kami bekerja atau brainstorming, kami bisa melakukan kegiatan fisik supaya seimbang, seperti kutipan latin mens sana in corpore sano yang artinya di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat”. Ucapnya. Ucrit menginginkan adanya lapangan basket, lapangan futsal, taman digital, arena skateboard, dan fasilitas kegiatan fisik lainnya dalam satu tempat.

Kemudian ada Yuki, pemuda yang saat ini sedang kuliah jurusan manajemen. Yuki lebih menyorot peran wakil rakyat di DPRD Kota Tasikmalaya untuk mengakomodir kebutuhan generasi milenial di Tasikmalaya. “Sekarang ini perlu adanya regenerasi di kalangan anggota dewan. Harusnya sekarang lebih banyak anggota dewan yang masih muda dan mengetahui kebutuhan generasi milenial, karena mereka-mereka ini lebih update tentang perkembangan zaman.” (WeBe)

 

Berita Terkait: 

Anne Yuniarti Fokus Kembangkan Potensi Generasi Milenial Tasikmalaya

Rekomendasi

Baca Juga