News Manuver Kebijakan Ekonomi Luar Negeri Tiongkok

Manuver Kebijakan Ekonomi Luar Negeri Tiongkok

Sisiusaha (22/11)

Tiongkok sedang berakselarasi cepat dalam sektor ekonomi. Hal ini tercermin dari kebijakan luar negeri mereka. Tiongkok secara masif membangun jaringan perdagangan dan infrastruktur yang kini telah menyatukan seluruh dunia untuk lebih dekat dengan mereka.            

Seperti dilansir New York Times, ada beberapa proyek besar Tiongkok yang sudah berjalan. Tiongkok bantu Kamboja membangun tujuh dam yang mampu memasok setengah dari kebutuhan listrik di sana. Tahun ini, kembali dengan bantuan Tiongkok, Kamboja akan membangun dam di pesisir selatan dengan tinggi 109 meter.            

Berikutnya salah satu proyek terpopuler Tiongkok, yakni pembangunan Pelabuhan DSWP (Deep-Sea Water Port) di Srilanka. Tiongkok memberikan bantuan senilai 1 Milyar US Dollar yang tidak dapat dikembalikan Srilanka. Akhirnya, Tiongkok berhak mengontrol pelabuhan tersebut, yang bernama Pelabuhan Hambatota, selama 99 tahun kedepan dengan sistem “sewa”.            

Kemudian ada Afrika Selatan yang meminta bantuan Tiongkok untuk proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga batubara senilai 1,5 Milyar US Dollar. Pembangkit listrik yang diberi nama Stasiun Pembangkit Medupi ini, merupakan satu dari setidaknya 63 proyek pembangkit listrik yang didanai Tiongkok di seluruh dunia.            

Zambia pun tak luput dari sasaran kebijakan ekonomi luar negeri Tiongkok. Jika sebelumnya berfokus pada energi dan infrastruktur, kali ini Tiongkok rela mengeluarkan 94 Juta US Dollar untuk pembangunan Stadion Heroes National berkapasitas 50.000 kursi yang terletak di Lusaka -- Ibukota Zambia.            

Sementara itu, pembangunan di dalam negeri tak luput dari manuver ekonomi luar negerinya. Tiongkok membangun 41 jalur pipa dan beberapa infrastruktur pendukung migas. Ditambah lagi, pembangunan 203 jembatan, jalan, dan jalur kereta api untuk memudahkan distribusi produk Tiongkok ke seluruh penjuru dunia. Tak hanya itu, Tiongkok juga membangun 199 pembangkit listrik tenaga nuklir, gas, batubara, dan energi terbarukan. Sampai dengan saat ini setidaknya ada 112 Negara tempat Tiongkok menaruh modalnya.            

New York Times menyebut, apa yang dilakukan Tiongkok merupakan bentuk modern dari Marshall Plan, yakni program Amerika Serikat pasca Perang Dunia Kedua untuk penguatan sektor militer serta hubungan diplomatik dengan cara pemberian dana ke beberapa negara. Namun, Tiongkok dinilai lebih berani dan beresiko.              

Disebut lebih berani karena, Tiongkok mempunyai tujuan geopolitik yang sangat jelas. Tiongkok membutuhkan “teman”. Dan jembatan, secara harfiah, mampu mendekatkan beberapa “teman” tersebut. Selain itu, pelabuhan besar yang mereka bangun di Pakistan, Srilanka, dan Malaysia menjadi rute utama pendistribusian minyak dan komoditi lainnya. Suatu hari nanti, tempat tersebut akan merangkap sebagai pusat angkatan laut Tiongkok.            

Oleh karena itu, mereka sangat fokus pada negara tetangganya, dengan cara meminjamkan uang jumlah besar untuk pembangunan infrastruktur. Langkah itu juga merupakan kebijakan ekonomi luar negeri Tiongkok yang banyak menuai kritik. Ahli menyebutnya sebagai diplomasi “jebakan utang”.            

Tiongkok disebut mempunyai pandangan kontradiktif terkait ketenagakerjaan dan lingkungan. Untuk proyek luar negeri, Tiongkok mengikutsertakan pekerja lokalnya untuk terlibat. Hal ini menimbulkan keluhan, apa yang Tiongkok lakukan tidak mengubah jumlah ketersediaan lapangan kerja. Untuk masalah lingkungan, Tiongkok terus mengekspor teknologi yang tidak ramah lingkungan. Sebuah teknologi yang justru sudah kadaluarsa di tanah mereka.            

Terakhir, apa yang disebut beresiko, disampaikan dari beberapa Pemerintahan Negara Barat dan Perusahaan MultiNasional. Namun, Pemerintah Tiongkok terus memberikan pinjaman besar ke negera-negara seperti Venezuela, Nigeria, dan Zimbabwe. Negara peminjam ini kebanyakan tidak mampu membayar sehingga dipaksa menegosiasi ulang perjanjian peminjaman.            

Perjanjian peminjaman ulang ini hanya membuat negara-negara peminjam jatuh ke lubang utang yang lebih besar. Dan kebanyakan, proyek-proyek yang sudah direncanakan menjadi terlantar. Sebagai Contoh, Ekuador menghabiskan lebih dari 1 Milyar US Dollar guna menyiapkan situs kilang minyak senilai 12 Milyar US Dollar. Proyek itu harusnya selesai tahun 2013. Tetapi, karena Ekuador tidak mampu, kini proyek terhenti begitu saja.

Sampai di titik ini, kira-kira manuver apa lagi yang akan dijalankan Tiongkok? (WeBe)

 

Foto: New York Times    

Rekomendasi

Baca Juga